Sejarah SMP Pangudi Luhur Bayat Tahun 2021
Sejarah SMP Pangudi Luhur Bayat
Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) Pangudi
Luhur Bayat, pada mulanya bukanlah Pangudi Luhur. Untuk sampai pada Pangudi
Luhur, sekolah ini mengalami beberapa tahapan atau proses. Pada tahun 1952,
sekolah ini dirintis oleh (Almarhum) Bapak Saminto Purwodarminto, dari
Soran-Klaten. Beliau adalah tokoh katolik di Paroki Klaten. Semula Bapak
Saminto bermaksud mendirikan SGB Swasta di Bayat Klaten, namun hanya sampai
kelas III. Untuk jenjang pendidikan selanjutnya, bagi siswa yang cukup
berprestasi melanjutkan ke kelas IV di SGB Ambarawa atau ke SGA Xaverius
(sekarang SMU PL van Lith) Muntilan, jika prestasinya sungguh baik. Mengingat
perkembangan jumlah siswa yang semakin banyak, SGB kelas III diikutsertakan
menempuh SMP.
Pada tahun 1955, SGB Swasta menjadi SMP Swasta yang
dibina oleh Kepala SD Kanisius dan SD Negeri Bapak Is. Mardisubroto. Pada tahun
ini Kepala Paroki Wedi adalah Rm. Danuwijaya,Pr. Karena kebaikan hatinyalah
Romo Paroki berkenan memberikan subsidi. Hal ini didukung oleh paguyuban para
petani yang mendirikan "Omprong tembakau Virginia" Dan sejak itu,
telah tercatat dihati masyarakat bahwa sekolah ini menjadi SMP Swasta Katolik
Bayat.
Pada tahun 1956, SMP Swasta Katolik Bayat, diubah
namanya menjadi SMP St. Pius X. Perubahan nama ini digagas oleh Rm.
Padmowijoyo, MSC (kakak kandung dari Rm. Danuwijoyo, Pr) yang bertugas di
Kutoarjo, Keuskupan Purwokerto. Beliau Rm. Padmowijoyo, Pr adalah pengampu
sekolah Swasta Katolik di Kutoarjo dibawah naungan Yayasan Pius X.
Kemudian terjadi pergantian atau perpindahan Romo
Paroki yang baru. Maka atas inisiatif para tokoh gereja Katolik Bayat, yakni
Bapak LYS. Mardisusiswo ( Kepala Sekolah SD K Bayat) dan Bapak Is. Mardisubroto
(Kepala SD Negeri Beluk), sekolah SMP St. Pius diserahkan pengelolaannya ke
Yayasan Pangudi Luhur, yang kala itu telah mulai dengan SMK Leonardo di Klaten.
Pada tahun 1964, SMP St. Pius secara resmi telah
menjadi Pangudi Luhur dan berada dibawah pengelolaan Yayasan Pangudi Luhur. Alih
yayasan ini sebenarnya telah menjawabi kerinduan Yayasan Pangudi Luhur yang
ingin membuka sekolah di luar kota Klaten. Maka pada tanggal 1 Agustus 1964,
oleh Br. Leonardo, FIC (sekretaris YPL), SMP Pangudi Luhur dinyatakan dibuka. Untuk
selanjutnya pembinaan sekolah-sekolah di luar kota diserahkan kepada Bruder
Otto, FIC dengan didampingi oleh PC.
Suwamo, St. Ragimo, R. Purwanto, Drs. Watiman, Romo Paroki Wedi.
Hingga tahun ajaran 2003/2004 SMP Pangudi Luhur
Bayat belum memiliki Santo Pelindung, namun implisit telah tersimpan dalam hati
bahwa Santo Aloysius adalah nama yang selalu disebut-sebut pada akhir doa
sebagai sarana berkat dari sekolah ini sejak tahun 1980. Maka pada tahun ajaran
2004/2005, Santo Aloysius dipilih karena dialah pelindung kaum muda.
Kepemimpinan SMP Pangudi Luhur Bayat terus berganti
sebagai bentuk regenerasi pengelola sekolah. Berikut adalah nama kepala sekolah yang pernah berkarya di SMP
Pangudi Luhur St. Aloysius Bayat.
1. Br.
Martinus Sariya Giri, FIC
2. Br.
Agustinus Marjito, FIC
3. Bpk. MK
Purnomo, S.Pd
4. Br. Savio
Gima Nataprayoga, FIC
5. Br.
Stefanus Ngadenan, FIC
6. Bpk. FX.
Heru Cahyana, S.Pd
7. Bpk.
Harjanto Gregorius, S.Pd
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang
cukup pesat mendorong seluruh warga sekolah untuk mengoptimalkan pemakaian
Laboratorium TIK untuk pengembangan pembelajaran dan pelayanan. Pada tahun
2018/2019, proses Ulangan Tengah Semester Gasal & Genap, Ulangan Akhir
Semester Gasal & Genap, Ujian Sekolah, Ujian Nasional Berbasis Komputer, TO
Tingkat sekolah, sudah menggunakan sistem CBT (Computer Based Test). Pada tahun
2019/2020, SMP Pangudi Luhur Bayat juga memiliki program kegiatan khusus
ketrampilan komputer untuk memberi bekal pada siswa penguasaan program tertentu
yang sangat dibutuhkan di saat sekarang. SMP Pangudi Luhur Bayat juga terus
berbenah untuk semakin melayani dan memfasilitasi siswa milenial agar mereka
berkembang dan berani bersaing di era globalisasi ini dengan terus menerus
menjunjung budaya bangsa.
Pada Bulan Maret 2019, WHO dan Pemerintah menyatakan
masa darurat Pandemi Covid-19. Hal ini mengubah sistem pembelajaran dari tatap
muka murni menjadi pembelajaran secara daring (online). Pada tahun pelajaran
2020/2021 masa pandemi Covid-19 masih berlangsung, SMP pangudi Luhur Bayat menerapkan
New Normal dalam dunia pendidikan dengan menerapkan protokol kesehatan, PJJ dan pembentukan satgas penanggulangan
penyebaran Covid-19. PJJ menggunakan berbagai aplikasi seperti Google
Classroom, Zoom Meeting, Google Form, Whatsapp, sms, luring, dll untuk
pelayanan pendidikan yang baik bagi siswa SMP Pangudi Luhur Bayat di masa darurat. Semua guru dituntut
untuk berubah dan belajar IT lebih banyak dan variatif untuk keberhasilan
pelayanan.
SMP Pangudi Luhur St. Aloysius Bayat dengan visi
“Pendampingan kaum muda yang berlandaskan kasih untuk mengembangkan pribadi
yang beriman, berbakat, cerdas, dan berkarakter” dan dengan motto “Disiplin, Jujur, Beriman, Tekun, dan
Unggul” SPELBA DJITU, siap mendampingi dan mengantarkan semua peserta
didik menuju cita cita yang para peserta didik harapkan.
SMP Pangudi Luhur Bayat di tahun 2021 terus memberi penekanan pada pendampingan karakter peserta didik sesuai dengan kebijakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2020 Tentang Penguatan Pendidikan Karakter Pada Satuan Pendidikan Formal. Penguatan Pendidikan Karakter menyertai Merdeka Belajar. Kebijakan ini menekankan enam karakter yang harus menjadi dasar pembelajaran; 1) computational thinking, 2) Creative, 3) Ctitical thinking, 4) Collaboration, 5) Communication, dan 6) Compassion. Penguatan pendidikan karakter dilakukan dengan berbasis pada kearifan lokal sebagai strategi revitalisasi nilai-nilai Pancasila untuk menguatkan karakter dan jati diri bangsa dengan didasari oleh: (a) integrasi kearifan lokal budaya yang bersumber dari core value (hormat, rukun, dan tolong menolong) sebagai strategi revitalisasi nilai-nilai Pancasila dan nilai karakter, (b) untuk mempersiapkan peserta didik sebagai warga negara yang cerdas dan baik, pembelajaran dilakukan dengan belajar sambil berbuat, belajar memecahkan masalah sosial, belajar melalui perlibatan sosial, dan belajar melalui pembiasaan serta interaksi sosial- kultural, (c) Implementasi model pembelajaran yang dikembangkan dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan dilakukan dengan pendekatan pembelajaran Problem Based Learning, Project Based Learning, Blended Learning.
Comments
Post a Comment