Sejarah , Nilai, dan Keutamaan Budaya Masyarakat Bayat
1.
Sejarah Bayat
Bayat adalah nama wilayah kecamatan yang berada di Kabupaten
Klaten, Propinsi Jawa Tengah. Nama Bayat berasal dari kata tem-bayat-an yang
berarti hidup rukun saling membantu dan bersinergi. Pengertian tembayatan
tersebut muncul pada saat Ki Ageng Pandanaran menetap di daerah ini setelah
melakukan serangkaian perjalanan pengembaraan dari Semarang. Ki Ageng
Pandanaran adalah mantan Adipati Semarang yang mendapat tugas oleh Sunan
Kalijaga untuk menyebarkan agama Islam ke daerah Selatan. Secara toponimi
perjalanan beliau dapat dilacak dari nama - nama kota dan desa yang pernah
beliau lewati atau bermukim untuk sementara.[1]
Nama Bayat juga selalu erat kaitannya dengan nama
tokoh Sunan Bayat.[2]
Meski tak setenar para tokoh yang menjadi bagian dari Walisongo, Sunan Bayat
merupakan salah satu penyebar agam Islam di tanah Jawa yang sangat dihormati.
Sebelum beguru pada Sunan Kalijaga, Bupati pertama Semarang ini memiliki kisah
kelam semasa hidupnya.
Bagi sebagian
masyarakat, sosok sang wali yang jasadnya kini terbaring di Gunung Jabalkat di
wilayah Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah ini
dipandang istimewa. Karena itu, makamnya nyaris tak pernah sepi dari peziarah.Ada
keyakinan bahwa siapa saja yang menjalankan laku ritual di tempat ini, maka
segala yang diharapkan akan terkabul. Keyakinan itu tak lepas dari riwayat
hidup sosok Sunan Bayat, yang semasa hidupnya dikenal sebagai orang yang kaya
raya.
Nama Sunan Bayat
sebenarnya adalah Ki Ageng Pandanaran. Beliau adalah bupati Semarang yang
pertama, yang semasa hidupnya dikenal sangat kaya. Hanya saja, karena kekayaannya itu, Ki Ageng Pandanaran akhirnya
lupa diri. Dia begitu mendewa-dewakan harta. Tiap hari yang dilakukannya
hanyalah mengumpulkan harta sebanyak mungkin. Salah satunya adalah dengan
menaikkan pajak dari rakyatnya.
Di kemudian hari, ada seorang pemotong rumput yang ingin
menjual rumputnya. Bupati menerima, tetapi dengan bayaran yang sangat murah
sekali. Oleh laki-laki tua pemotong rumput, hal ini tidak dipermasalahkan.Setelah
dibayar, sang bupati kemudian mencoba melihat rumput yang baru dibelinya itu.
Dia senang karena rumput itu memang bagus kualitasnya. Namun alangkah
terkejutnya dia karena di dalam ikatan rumput terdapat beberapa keping
emas.Sontak hal ini membuat dia gembira. Bahkan kejadian itu berulang sampai
beberapa kali. Namun pada suatu hari saat laki-laki tua menjajakan rumputnya,
dia tidak mau dibayar, melainkan meminta supaya beduk masjid kabupaten
dibunyikan. Tak ayal, sang bupati marah karena merasa dilecehkan laki-laki itu.
Melihat Ki Ageng Pandanaran marah, laki-laki tua itu
tenang saja. Bahkan dia kemudian mengatakan tidak butuh uang. Kalau saja mau,
katanya, dia bisa mendapat emas yang lebih banyak hanya dalam satu cangkulan. Ucapan
itu makin menambah geram Ki Ageng Pandanaran, sehingga dia lantas menyuruh
laki-laki tua itu membuktikan ucapannya. Bila ucapannya benar terbukti, maka Ki
Ageng Pandanaran bersedia mengabulkan permintaan laki-laki tua itu.
Dengan disaksikan para pejabat dan prajurit kadipaten,
pria tua itu pun meraih cangkul untuk membuktikan ucapannya. Benar saja, dengan
sekali cangkul, tanah di pendopo terangkat, dan terlihatlah bongkahan emas
berkilauan.“Bupati tertunduk menangis dan sungkem di bawah kaki laki-laki tua.
Apalagi setelah mengetahui bahwa dia adalah Sunan Kalijaga, maka dia memutuskan
untuk mengabdi sebagai murid, dan Sunan Kalijaga mengatakan, kalau sang bupati
ingin jadi muridnya, maka dia harus menemuinya di Gunung Jabalkat. Karena
itulah Ki Pandanaran kemudian memutuskan untuk meninggalkan rumahnya dan
memilih menyusul Sunan Kalijaga untuk menebus segala dosa yang telah
dilakukannya.
Dalam perjalanannya menuju ke Gunung Jabalkat, banyak
ujian yang harus dihadapi Ki Ageng Pandanaran. Salah satunya adalah ketika ia
diadang dua perampok yang pada akhirnya justru menjadi murid kesayangannya. Dua
orang itu adalah Syeh Domba dan Syeh Kewel. Tak hanya itu, Ki Ageng Pandanaran
juga sempat menjadi pembantu di sebuah warung serabi demi menyambung hidup.
Bahkan keberadaan Ki Ageng Pandanaran makin meningkatkan rezeki si pemilik
warung. Tiap hari dagangannya selalu habis diserbu pembeli, padahal sebelumnya
tidak.
Dari situ akhirnya banyak orang yang beranggapan bahwa
Sunan Bayat bisa membantu membuka pintu
rezeki, sehingga saat dia mulai mendirikan padepokan di Gunung Jabalkat,
dari hari ke hari pengikutnya makin banyak. Ia lalu menetap di Tembayat hingga akhir
hayatnya, yang sekarang bernama Bayat,
Klaten, dan menyiarkan Islam dari sana
kepada para pertapa di sekitarnya. [3]
Karena kesaktiannya ia mampu meyakinkan mereka untuk memeluk agama Islam. Oleh
karena itu ia disebut sebagai Sunan Tembayat atau Sunan Bayat. Karena keyakinan itu juga, bahkan hingga kini banyak
para pedagang yang percaya bahwa ada energi penglaris di makam Sunan Bayat.
Itulah salah satu alasan yang mendorong mereka kerap datang berziarah dan
ngalap berkah di makam Sunan Bayat. Sekarang, wilayah ini disebut Bayat.
Keutamaan yang dapat diyakini dari Sunan Tembayat adalah
: “membuka pintu rejeki”. Di tingkat praktik pendidikan ‘Membuka pintu rejeki”
berarti “membuka cakrawala dan pintu keberhasilan” untuk para siswa yang
didampingi. Pendidik harus mampu membuka cakrawala seluas-luasnya pada peserta
didik, sehingga mereka mampu berkembang, berpikir secara global dalam kehidupan
mereka.
2. Nilai dan Keutamaan Budaya Masyarakat Bayat
Kebudayaan merupakan sebuah identitas
dalam suatu kelompok masyarakat. Identitas tersebut secara bersama-sama
disepakati oleh masyarakat dan diwariskan secara turun temurun. Budaya
terbentuk dari berbagai unsur budaya seperti yang dikemukakan oleh Koentjaraningrat
antara lain: sistem religi dan upacara keagaamaan, sistem dan organisasi
kemasyarakatan, sistem pengetahuan, bahasa, kesenian, sistem mata pencaharian,
sistem teknologi dan peralatan.
Model LUBER menggunakan pendekatan
budaya milik Koentjaraningrat. Ia mengemukakan, “Kebudayaan sebagai keseluruhan
sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan
bermasyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.” Antara
kebudayaan dan pembelajaran berada dalam rangkaian yang sama. Pendidikan tidak
bisa dilepaskan dari kebudayaan. Maka, dalam memetakan keunggulan sekolah, kami
menggunakan peta unsur kebudayan milik Koentjaraningrat.
Setiap
masyarakat memiliki sistem sosial budaya yang mengatur pola hidup dan pola
interaksi antar anggota masyarakat. Salah satu aspek yang terpenting dalam
kehidupan bersama dalam masyarakat adalah sisitem nilai yang mengatur hidup
masyarakat. Nilai-nilai tersebut dapat bersumber dari adat istiadat yang
berlaku, agama, budaya, sistem politik maupun aspek kehidupan lainnya. Melalui
pendidikan manusia mengenal peradaban masa lalu, turut serta dalam peradaban
saat ini, dan mempersiapkan peradaban masa yang akan akan datang.
Beberapa budaya
/ciri khas yang ada dan berkembang di
masyarakat Bayat tempat SMP Pangudi
Luhur Bayat berada adalah :
a.
Sistem
Religi dan Upacara Keagamaan
Sistem
religi adalah “Semua aktivitas manusia
yang bersangkutan dengan religi berdasarkan suatu getaran jiwa, yang biasanya
disebut emosi keagamaan” (Koentjaraningrat, 2009:295). Emosi keagamaan inilah
yang mendorong masyarakat Bayat melakukan tindakan-tindakan bersifat religi. Mayoritas warga Bayat memeluk agama Islam dan sebagian kecil
beragama Katolik, Kristen, dan Hindu. Budaya dan kehidupan sebagian besar orang
Bayat dipengaruhi oleh agama mayoritas seperti keberadaan tempat ibadah,
penampilan (pakaian yang menunjukkan agama tertentu sejak dini)
1)
Wisata Religi (Sunan Pandanaran, Gua
Maria Marganingsih)
Kecamatan
Bayat memiliki wisata religi yang sangat beragam. Makam Sunan Pandanaran adalah
wisata religi untuk umat beragama Islam. Gua Maria Marganingsih adalah tujuan
wisata religi untuk umat beragama Katolik. Kedua tempat wisata religi yang ada
di sini merupakan simbol toleransi, nilai “saling menghargai” yang berkembang di
Bayat.
2)
Perayaan Hari Raya Agama
Perayaan Hari Raya Agama mayoritas
dilakukan oleh seluruh warga Bayat terutama pada hari Raya Idul Fitri. Mereka
saling mengunjungi, bersilaturahmi satu keluarga dengan yang lain tanpa
memandang latar belakang agama mereka. “Saling menghargai dan toleransi” juga
kita temukan pada perayaan Hari Raya Idul Adha, dimana semua warga tanpa
terkecuali mendapatkan daging kurban. Hal ini berarti merelakan sebagaian yang
mereka miliki untuk orang lain.
b.
Sistem
dan Organisasi Kemasyarakatan
Kehidupan
dalam setiap kelompok masyarakat diatur oleh adat istiadat dan aturan mengenai
berbagai macam kesatuan di dalam lingkungan di mana dia hidup. Kesatuan sosial
yang paling dasar dan menjadi unsur-unsur budaya menurut Koentjaraningrat
adalah kerabat, keluarga inti yang dekat dan kerabat yang lain. Kemudian,
unsur-unsur budaya menurut Koentjaraningrat ini membuat manusia akan
digolongkan ke dalam tingkatan-tingkatan lokalitas geografis untuk membentuk
organisasi sosial. Kekerabatan yang menjadi bagian unsur-unsur budaya menurut
Koentjaraningrat juga berkaitan dengan perkawinan. Perkawinan merupakan inti
atau dasar dalam pembentukan suatu komunitas atau organisasi sosial.
Sistem
kemasyarakatan masyarakat merupakan seperangkat aturan yang berlaku dalam
masyarakat. Sistem kemasyarakatan tersebut meliputi kekerabatan, gotong-royong,
dan organisasi sosial.
Kebudayaan
masyarakat Bayat yang bersuku Jawa bisa diartikan sebagai kesatuan hidup masyarakat
Jawa yang berinteraksi dan terikat oleh aturan-aturan bersama, diperoleh dari
hasil belajar, dan telah disepakati untuk kelangsungan hidup bersama.
Masyarakat Bayat dengan segala aktvitasnya tidak bisa lepas dari kebudayaan.
Bagi masyarakat Bayat, kebudayaan adalah nafas kehidupan. Hal ini dapat dilihat
dari universalitas hidup masyarakat Bayat itu sendiri yang menjunjung tinggi
kebudayaannya dalam segala aspek kehidupan. Peran penting ini yang menyebabkan
kebudayaan Bayat diwariskan dari generasi ke generasi yang akan datang.
Kebudayaan
Masyarakat Bayat memiliki sifat khas, yaitu nrimo.
Nrimo dalam tradisi Jawa merupakan
keterbukaan atau sifat mudah menerima segala sesuatu yang dianggap baik untuk
membaur dalam kehidupan. Dari sifat inilah terjadi pergesaran kebudayaan Jawa
melalui proses akulturasi. Uniknya, masyarakat Bayat sebagai orang Jawa selain
mudah menyerap kebudayaan luar, juga masih mempertahankan kebudayaan aslinya.
Sistem
kemasyarakatan masyarakat Jawa berkaitan dengan gotong-royong (sosialisasi)
antar masyarakat di sekitarnya sebagai berikut. Toto kromo wanita Jawa saat
bersosialisasi dengan masyarakat, proses sosialisasi antara anggota masyarakat
dalam pengajian (langgar) dan kehidupan sehari-hari, proses sosialisasi saat lamaran dan
pernikahan, tradisi lek-lek’an, serat ulem sebagai simbol toleransi antara
anggota masyarakat di Jawa, tradisi mitoni (tingkeban), dan toto kromo menerima
tamu.
Berdirinya
suatu organisasi sosial dalam masyarakat Bayat juga merupakan suatu bentuk
kerja sama. Organisasi sosial merupakan perkumpulan orang-orang dengan
pandangan hidup yang sama untuk tujuan yang sama. Di Bayat ada berbagai macam
organisasi kemasyarakatan baik yang berbasis agama maupun kepentingan umum,
kegemaran maupun politik seperti karang taruna, Orang Muda Katolik, Kelompok
Pengajian, TPA, dll.
c.
Sistem
Pengetahuan
Pengetahuan
adalah segala sesuatu yang diketahui dan berkenaan dengan hal yang diajarkan,
baik di pendidikan formal maupun non-formal. Sedangkan sistem pengetahuan
adalah keseluruhan sistem yang terpadu dari berbagai macam pengetahuan yang
saling berkaitan satu sama lain.Sistem pengetahuan meliputi ruang pengetahuan
tentang alam sekitar, flora dan fauna, waktu, ruang dan bilangan, sifat-sifat
dan tingkah laku sesama manusia, hingga tubuh manusia. Pentingnya ilmu
pengetahuan berhubungan dengan sistem pendidikan yang berlaku di Indonesia.
Ada
kesadaran masyarakat Bayat terhadap pentingnya ilmu pengetahuan untuk masa
depan, maka mereka menginginkan dan
mengirimkan anak anak mereka untuk menempuh pendidikan paling tidak dari TK, SD, SMP hingga SMA/SMK.
Sekolah Menengah Kejuruan memang masih menjadi tujuan para orang tua karena
mereka menganggap dengan bersekolah di SMK, anak-anak mereka mempunyai
keterampilan khusus dan siap untuk bekerja.
d.
Sistem
Bahasa
Bahasa
merupakan unsur-unsur budaya menurut Koentjaraningrat berupa alat bagi manusia
dalam memenuhi kebutuhan sosialnya untuk berinteraksi dengan sesamanya. Kemampuan
manusia dalam membangun tradisi budaya, menciptakan pemahaman tentang fenomena
sosial yang diungkapkan secara simbolik. Hal ini membuat unsur-unsur budaya
menurut Koentjaraningrat seperti bahasa kemudian akan diwariskan kepada
generasi penerusnya dengan menggunakan bahasa. Dengan demikian, bahasa
menduduki kedudukan yang penting dalam analisis kebudayaan manusia.
Sebagian
masyarakat Bayat menggunakan bahasa keseharian adalah bahasa Jawa yang memiliki strata kasar, sedang, dan halus.
Strata halus digunakan orang muda berbicara kepada orang yang usianya lebih
tua, sedangkan untuk seumuran menggunakan bahasa yang sedang (ngoko alus)
atau “ngoko”. Orang Bayat termasuk daerah Yogyakarta dan Solo lebih dikenal
dengan bicaranya yang lembut dan sopan (tahu unggah ungguh).
e.
Sistem
Kesenian
Unsur-unsur
budaya menurut Koentjaraningrat dapat berwujud kesenian. Aktivitas
kesenian masyarakat berupa Hadroh, Karawitan,
Jathilan, Gerabah, Batik, ukir, dan
hiasan. Beberapa kesenian masyarakat Bayat yang menonjol dan memiliki nilai
adalah :
1)
Motif Batik Khas Bayat
Setiap
daerah di Jawa Tengah memiliki batik dengan corak yang khas. Ini berlaku juga
di Kabupaten Klaten. Desa Wisata Jarum menjadi salah satu lokasi batik khas
Klaten itu diproduksi. Warga setempat menyebutnya Batik Bayat. Kedekatan Klaten dengan Solo membuat corak
Batik Bayat mirip batik Solo, yakni corak kasunanan.
Batik
Bayat didominasi warna cokelat. Warna ini kerap dipadukan dengan motif Gajah Birowo. Gajah digunakan lantaran
hewan ini melambangkan sumber kekuatan
serta kepemimpinan.
Selain
motif gajah birowo, batik tersebut juga memiliki motif lain, yakni Babon
Angrem. Dalam bahasa Indonesia, babon angrem berarti induk ayam yang sedang
mengerami telurnya. Batik Bayat motif babon angrem biasanya digunakan para ibu
pada upacara tujuh bulanan.. Motif ini
menggambarkan ayam betina yang baru mengeram dan melambangkan harapan agar
Tuhan memberkati perkawinan dengan memberikan kesuburan dan keturunan, serta
kemakmuran dalam kehidupan. Harapan tersebut dapat dilihat pada motif utama
berupa saluran indung telur yang penuh dengan bakal calon buah, bahkan ada
gambar yang mengibaratkan rahim yang berisi benih atau biji. [1]Menilik
pelambangannya, babon angrem
menggambarkan kasih sayang ibu pada
anaknya. Batik ini juga menjadi ungkapan permohonan keturunan agar bisa
melanjutkan sejarah keluarga.
Pendidikan
anak meliputi Asah, Asih, Asuh dimulai sejak usia anak masih dini bahkan sejak
masih dalam kandungan. Pendidik harus menerapkan asah, asih, asuh dalam
mendampingi peserta didik hingga mereka tumbuh dan berkembang segala aspek
kehidupannya.
2)
Gerabah
Gerabah juga dikenal dengan istilah tembikar atau
keramik. Gerabah yang dihasilkan oleh masyarakat Indonesia berupa barang pecah
belah seperti tempayan, periuk, belanga, kendi, dan celengan. Teknik pembuatan
gerabah pada saat itu sangat terbatas dan sederhana. Proses akhir dari
pembuatan gerabah adalah pembakaran suhu rendah dengan menggunakan jerami atau
sabut kelapa.
Gerabah yang dibuat di Bayat kebanyakan
dibuat untuk keperluan sehari-hari. Misalnya, mangkok, gelas, teko air, meja,
kursi atau pot tanaman. Gerabah Bayat memiliki kesan yang biasa, namun ada yang
membuatnya unik dan berbeda dari pembuatan gerabah pada umumnya, yaitu
terletak pada teknik atau cara pembuatannya.
Pada umumnya cara untuk membuat gerabah
menggunakan meja putar tegak. Masyarakat di daerah Bayat menyebutnya dengan
perbot, Yang membuat unik dari gerabah Bayat adalah penggunaan perbot miring
yang konon hanya ada di Bayat. Perbot miring itu sendiri hanya bisa digunakan
untuk membuat gerabah-gerabah yang ukurannya kecil. Apabila gerabah dibuat
dalam ukuran yang besar, dikhawatirkan gerabah bisa jatuh karena posisinya
miring.
f.
Sistem
Mata Pencaharian
Sistem
mata pencaharian adalah pekerjaan atau pencaharian utama yang dikerjakan untuk
memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Beberapa
mata pencaharian yang menonjol, unik dan menjadi ciri khas masyarakat Bayat
adalah :
1) HIK/Angkringan
(Penjual makanan dan minuman)
Jumlah
masyarakat Bayat yang berprofesi sebagai penjual warung HIK/angkringan, Hidangan
Istimewa Kampung (Klaten) cukup banyak. Mereka menyebar di seluruh
pelosok Nusantara.
Penjual HIK/angkringan dulu
memikul dagangannya sambil berkeliling kota. Kemudian para penjual lebih
memilih mangkal dan menggunakan sebuah gerobak kaki lima yang dilengkapi dengan
kursi panjang untuk para pembeli. Karena menggunakan kursi yang panjang
tersebut, para pelanggannya suka menaikkan sebelah kakinya ke atas kursi. Karena
kebiasaan menaikkan satu kaki inilah muncul istilah “angkringan” atau “nangkring” atau “metangkring”.
Secara ekonomis, keberadaan warung HIK/angkringan yang
menyediakan beragam makanan berikut “jajanan” dengan harga murah berfungsi
sebagai “katup penyelamat” bagi masyarakat golongan kelas bawah. Bungkusan nasi
dengan berbagai lauknya seperti oseng-oseng tempe, ikan teri atau sambal
yang dikenal dengan sebutan sego kuching‘nasi kucing’ karena porsinya
yang pas-pasan sekedar dijual dengan harga Rp2.500,- dan agaknya dua porsi nasi
kucing saja sudah cukup untuk mengisi perut yang keroncongan, sedang segelas
teh hangat atau jeruk hangat dapat diperoleh dengan harga yang sama pula, Rp 2.500,-.
Tak pelak, keberadaan warung angkringan juga dirasa begitu membantu masyarakat terlebih
bagi mereka yang memiliki uang saku pas-pasan.
Warung HIK/angkringan
memiliki filosofi yang mendalam terutama bagi masyarakat Jawa. Orang Jawa
menganggap angkringan bukan hanya sebagai tempat mengisi perut dengan kisaran
harga yang relatif murah. Warung HIK/Angkringan dianggap sebagai tempat sosialisasi antar warga
dan sebagai simbol egaliter (derajat yang sama) antar manusia. Apalagi dengan
harga makanan di tempat ini memang murah sehingga tempat ini menjadi suatu
sarana berkumpulnya masyarakat antar kelas sosial. Keberadaan warung angkringan dapat pula ditempatkan
sebagai “ruang publik” masyarakat. Ruang publik (public sphere)sebagaimana
diutarakan Jurgen Habermas, filsuf kenamaan Jerman adalah,
“...publicsphere may be conceived above
all as the sphere of private people come together as a public; they soon
claimed the public sphere regulated from above againstthe public authorities
themselves, to engage them in a debate over the generalrules governing
relations ...”
(Jurgen Habermas 1989: 27)
[“…ruang publik dapat dipahami sebagai kesatuan ruang
privat di mana orang-orang yang terdapat di dalamnya datang bersama-samasebagai
publik; melakukan klaim bahwa ruang tersebut syarat diatur berdasarkan otoritas
mereka, untuk turut berpartisipasi dalam debat mengenai berbagai kebijakan yang
dibuat pemerintah…”][2]
Lebih jauh, Habermas menjelaskan bahwa ruang publik
adalah suatu ruang yang bebas dari penindasan, tekanan,dominasi-dormant, suatu
ruang di mana setiap individu memiliki derajat yang sama, dan berbagai diskusi
dapat berlangsung di dalamnya. Di sisi lain, ruang publik berfungsi pula
sebagai tempat untuk membudalkan uneg-uneg dan membuang “ampas-ampas
kotoran” yang ada dalam pikiran.[3]
Diskusi yang terjadi dalam
warung-warung HIK/angkringan berlangsung secara bebas dan terbuka. Bebas dalam
arti, setiap orang dapat mengemukakan pendapat. Terbuka berarti, setiap orang
dapat turut berpartisipasi dalam diskusi atau debat yang tengah
berlangsung,entah tukang becak, buruh bangunan, sopir, siapapun berbagai
lapisan masyarakat dengan beragam profesinya yang berbeda. Menilik proses
sosial yang terjadi di dalam warung angkringan, tak berlebihan kiranya jika
dikatakan bahwa sejatinya suara nurani akar rumput justru muncul dan menyerua
melaluinya.
Dengan suasana yang menyajikan kehangatan dan
kesederhanaan di setiap warung HIK/angkringan, menjadi suatu sarana bagi
masyarakat untuk membaur satu dengan yang lainnya. Tidak memandang seragam dan
status sosial. Bahkan seringkali penjualnya ikut terhanyut dalam obrolan para
pelanggannya. Hal yang seperti inilah yang menjadikan pelanggan tiap-tiap warung
HIK/angkringan punya alasan kembali. Kembali pada kodrat manusia yang memiliki
derajat yang sama.
Filosofi warung HIK/angkringan adalah salah satu bentuk perjuangan
seseorang dalam menghadapi kemiskinan. Artinya adalah, dalam keadaan yang serba
kesusahan dan modal yang seadanya atau sedikit tapi tetap berjuang untuk
mendirikan sebuah usaha dan memenuhi kebutuhan hidup. Keutamaan yang ada dalan kehidupan masyarakat yang
berprofesi sebagai penjual angkringan adalah :
a. Sederhana
b. Sabar
c. Kerja
keras
d. Tidak
membeda-bedakan, derajat sama
e. Keramahan
f. Komunikasi
yang hangat
g. Diskusi
(musyawarah)
g. Sistem Teknologi dan Peralatan
Sistem
pengetahuan memengaruhi pola pikir masyarakat Bayat terhadap hal-hal baru
seperti teknologi. Kemajuan ini semakin
pesat sehingga ditemukanlah internet, teknologi tepat guna, dan hal-hal modern
lainnya. Sehingga pekerjaan manusia dapat dilakukan dengan mudah.
Listrik,
telepon, jaringan internet sudah masuk di wilayah Bayat. Masyarakat Bayat sudah
memfaatkan failitas ini untuk memperlancar pekerjaan, komunikasi dan
pengembangan pengethauan mereka. Hal ini
mendorong masyarakat Bayat untuk memiliki peralatan teknologi baru seperti handphone, smartphone,
Televisi, Komputer, laptop, dll. Di masa pandemi Covid-19, keberadaan sarana
teknologi sangat dibutuhkan untuk mendukung pencegahan penyebaran Covid-19
(5M).
Comments
Post a Comment