Sejarah ,  Nilai, dan Keutamaan  Budaya Masyarakat Bayat


1.      Sejarah Bayat

Bayat adalah nama wilayah kecamatan yang berada di  Kabupaten Klaten, Propinsi Jawa Tengah. Nama Bayat berasal dari kata tem-bayat-an yang berarti hidup rukun saling membantu dan bersinergi. Pengertian tembayatan tersebut muncul pada saat Ki Ageng Pandanaran menetap di daerah ini setelah melakukan serangkaian perjalanan pengembaraan dari Semarang. Ki Ageng Pandanaran adalah mantan Adipati Semarang yang mendapat tugas oleh Sunan Kalijaga untuk menyebarkan agama Islam ke daerah Selatan. Secara toponimi perjalanan beliau dapat dilacak dari nama - nama kota dan desa yang pernah beliau lewati atau bermukim untuk sementara.[1]

Nama Bayat juga selalu erat kaitannya  dengan nama   tokoh Sunan Bayat.[2] Meski tak setenar para tokoh yang menjadi bagian dari Walisongo, Sunan Bayat merupakan salah satu penyebar agam Islam di tanah Jawa yang sangat dihormati. Sebelum beguru pada Sunan Kalijaga, Bupati pertama Semarang ini memiliki kisah kelam semasa hidupnya.

Bagi sebagian masyarakat, sosok sang wali yang jasadnya kini terbaring di Gunung Jabalkat di wilayah Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah ini dipandang istimewa. Karena itu, makamnya nyaris tak pernah sepi dari peziarah.Ada keyakinan bahwa siapa saja yang menjalankan laku ritual di tempat ini, maka segala yang diharapkan akan terkabul. Keyakinan itu tak lepas dari riwayat hidup sosok Sunan Bayat, yang semasa hidupnya dikenal sebagai orang yang kaya raya.

Nama Sunan Bayat sebenarnya adalah Ki Ageng Pandanaran. Beliau adalah bupati Semarang yang pertama, yang semasa hidupnya dikenal sangat kaya. Hanya saja, karena kekayaannya itu, Ki Ageng Pandanaran akhirnya lupa diri. Dia begitu mendewa-dewakan harta. Tiap hari yang dilakukannya hanyalah mengumpulkan harta sebanyak mungkin. Salah satunya adalah dengan menaikkan pajak dari rakyatnya.

Di kemudian hari, ada seorang pemotong rumput yang ingin menjual rumputnya. Bupati menerima, tetapi dengan bayaran yang sangat murah sekali. Oleh laki-laki tua pemotong rumput, hal ini tidak dipermasalahkan.Setelah dibayar, sang bupati kemudian mencoba melihat rumput yang baru dibelinya itu. Dia senang karena rumput itu memang bagus kualitasnya. Namun alangkah terkejutnya dia karena di dalam ikatan rumput terdapat beberapa keping emas.Sontak hal ini membuat dia gembira. Bahkan kejadian itu berulang sampai beberapa kali. Namun pada suatu hari saat laki-laki tua menjajakan rumputnya, dia tidak mau dibayar, melainkan meminta supaya beduk masjid kabupaten dibunyikan. Tak ayal, sang bupati marah karena merasa dilecehkan laki-laki itu.

Melihat Ki Ageng Pandanaran marah, laki-laki tua itu tenang saja. Bahkan dia kemudian mengatakan tidak butuh uang. Kalau saja mau, katanya, dia bisa mendapat emas yang lebih banyak hanya dalam satu cangkulan. Ucapan itu makin menambah geram Ki Ageng Pandanaran, sehingga dia lantas menyuruh laki-laki tua itu membuktikan ucapannya. Bila ucapannya benar terbukti, maka Ki Ageng Pandanaran bersedia mengabulkan permintaan laki-laki tua itu.

Dengan disaksikan para pejabat dan prajurit kadipaten, pria tua itu pun meraih cangkul untuk membuktikan ucapannya. Benar saja, dengan sekali cangkul, tanah di pendopo terangkat, dan terlihatlah bongkahan emas berkilauan.“Bupati tertunduk menangis dan sungkem di bawah kaki laki-laki tua. Apalagi setelah mengetahui bahwa dia adalah Sunan Kalijaga, maka dia memutuskan untuk mengabdi sebagai murid, dan Sunan Kalijaga mengatakan, kalau sang bupati ingin jadi muridnya, maka dia harus menemuinya di Gunung Jabalkat. Karena itulah Ki Pandanaran kemudian memutuskan untuk meninggalkan rumahnya dan memilih menyusul Sunan Kalijaga untuk menebus segala dosa yang telah dilakukannya.

Dalam perjalanannya menuju ke Gunung Jabalkat, banyak ujian yang harus dihadapi Ki Ageng Pandanaran. Salah satunya adalah ketika ia diadang dua perampok yang pada akhirnya justru menjadi murid kesayangannya. Dua orang itu adalah Syeh Domba dan Syeh Kewel. Tak hanya itu, Ki Ageng Pandanaran juga sempat menjadi pembantu di sebuah warung serabi demi menyambung hidup. Bahkan keberadaan Ki Ageng Pandanaran makin meningkatkan rezeki si pemilik warung. Tiap hari dagangannya selalu habis diserbu pembeli, padahal sebelumnya tidak.

Dari situ akhirnya banyak orang yang beranggapan bahwa Sunan Bayat bisa membantu membuka pintu rezeki, sehingga saat dia mulai mendirikan padepokan di Gunung Jabalkat, dari hari ke hari pengikutnya makin banyak. Ia lalu menetap di Tembayat hingga akhir hayatnya, yang sekarang bernama Bayat, Klaten, dan menyiarkan Islam dari sana kepada para pertapa  di sekitarnya. [3] Karena kesaktiannya ia mampu meyakinkan mereka untuk memeluk agama Islam. Oleh karena itu ia disebut sebagai Sunan Tembayat atau Sunan Bayat. Karena keyakinan itu juga, bahkan hingga kini banyak para pedagang yang percaya bahwa ada energi penglaris di makam Sunan Bayat. Itulah salah satu alasan yang mendorong mereka kerap datang berziarah dan ngalap berkah di makam Sunan Bayat. Sekarang, wilayah ini disebut Bayat.

Keutamaan yang dapat diyakini dari Sunan Tembayat adalah : “membuka pintu rejeki”. Di tingkat praktik pendidikan ‘Membuka pintu rejeki” berarti “membuka cakrawala dan pintu keberhasilan” untuk para siswa yang didampingi. Pendidik harus mampu membuka cakrawala seluas-luasnya pada peserta didik, sehingga mereka mampu berkembang, berpikir secara global dalam kehidupan mereka.

2.      Nilai dan Keutamaan Budaya Masyarakat Bayat

Kebudayaan merupakan sebuah identitas dalam suatu kelompok masyarakat. Identitas tersebut secara bersama-sama disepakati oleh masyarakat dan diwariskan secara turun temurun. Budaya terbentuk dari berbagai unsur budaya seperti yang dikemukakan oleh Koentjaraningrat antara lain: sistem religi dan upacara keagaamaan, sistem dan organisasi kemasyarakatan, sistem pengetahuan, bahasa, kesenian, sistem mata pencaharian, sistem teknologi dan peralatan.

Model LUBER menggunakan pendekatan budaya milik Koentjaraningrat. Ia mengemukakan, “Kebudayaan sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan bermasyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.” Antara kebudayaan dan pembelajaran berada dalam rangkaian yang sama. Pendidikan tidak bisa dilepaskan dari kebudayaan. Maka, dalam memetakan keunggulan sekolah, kami menggunakan peta   unsur kebudayan milik Koentjaraningrat.

Setiap masyarakat memiliki sistem sosial budaya yang mengatur pola hidup dan pola interaksi antar anggota masyarakat. Salah satu aspek yang terpenting dalam kehidupan bersama dalam masyarakat adalah sisitem nilai yang mengatur hidup masyarakat. Nilai-nilai tersebut dapat bersumber dari adat istiadat yang berlaku, agama, budaya, sistem politik maupun aspek kehidupan lainnya. Melalui pendidikan manusia mengenal peradaban masa lalu, turut serta dalam peradaban saat ini, dan mempersiapkan peradaban masa yang akan akan datang.


Beberapa budaya /ciri khas yang ada dan berkembang   di masyarakat Bayat  tempat SMP Pangudi Luhur Bayat berada adalah :

a.      Sistem Religi dan Upacara Keagamaan

Sistem religi adalah  “Semua aktivitas manusia yang bersangkutan dengan religi berdasarkan suatu getaran jiwa, yang biasanya disebut emosi keagamaan” (Koentjaraningrat, 2009:295). Emosi keagamaan inilah yang mendorong masyarakat Bayat  melakukan tindakan-tindakan bersifat religi.  Mayoritas warga  Bayat memeluk agama Islam dan sebagian kecil beragama Katolik, Kristen, dan Hindu. Budaya dan kehidupan sebagian besar orang Bayat dipengaruhi oleh agama mayoritas seperti keberadaan tempat ibadah, penampilan (pakaian yang menunjukkan agama tertentu sejak dini)

1)        Wisata Religi (Sunan Pandanaran, Gua Maria Marganingsih)

Kecamatan Bayat memiliki wisata religi yang sangat beragam. Makam Sunan Pandanaran adalah wisata religi untuk umat beragama Islam. Gua Maria Marganingsih adalah tujuan wisata religi untuk umat beragama Katolik. Kedua tempat wisata religi yang ada di sini merupakan simbol toleransi, nilai “saling menghargai” yang berkembang di Bayat.

2)        Perayaan Hari Raya Agama

Perayaan Hari Raya Agama mayoritas dilakukan oleh seluruh warga Bayat terutama pada hari Raya Idul Fitri. Mereka saling mengunjungi, bersilaturahmi satu keluarga dengan yang lain tanpa memandang latar belakang agama mereka. “Saling menghargai dan toleransi” juga kita temukan pada perayaan Hari Raya Idul Adha, dimana semua warga tanpa terkecuali mendapatkan daging kurban. Hal ini berarti merelakan sebagaian yang mereka miliki untuk orang lain.

 

            b.    Sistem dan Organisasi Kemasyarakatan

Kehidupan dalam setiap kelompok masyarakat diatur oleh adat istiadat dan aturan mengenai berbagai macam kesatuan di dalam lingkungan di mana dia hidup. Kesatuan sosial yang paling dasar dan menjadi unsur-unsur budaya menurut Koentjaraningrat adalah kerabat, keluarga inti yang dekat dan kerabat yang lain. Kemudian, unsur-unsur budaya menurut Koentjaraningrat ini membuat manusia akan digolongkan ke dalam tingkatan-tingkatan lokalitas geografis untuk membentuk organisasi sosial. Kekerabatan yang menjadi bagian unsur-unsur budaya menurut Koentjaraningrat juga berkaitan dengan perkawinan. Perkawinan merupakan inti atau dasar dalam pembentukan suatu komunitas atau organisasi sosial.

Sistem kemasyarakatan masyarakat merupakan seperangkat aturan yang berlaku dalam masyarakat. Sistem kemasyarakatan tersebut meliputi kekerabatan, gotong-royong, dan organisasi sosial.

Kebudayaan masyarakat Bayat yang bersuku Jawa bisa diartikan sebagai kesatuan hidup masyarakat Jawa yang berinteraksi dan terikat oleh aturan-aturan bersama, diperoleh dari hasil belajar, dan telah disepakati untuk kelangsungan hidup bersama. Masyarakat Bayat dengan segala aktvitasnya tidak bisa lepas dari kebudayaan. Bagi masyarakat Bayat, kebudayaan adalah nafas kehidupan. Hal ini dapat dilihat dari universalitas hidup masyarakat Bayat itu sendiri yang menjunjung tinggi kebudayaannya dalam segala aspek kehidupan. Peran penting ini yang menyebabkan kebudayaan Bayat diwariskan dari generasi ke generasi yang akan datang.

Kebudayaan Masyarakat Bayat memiliki sifat khas, yaitu nrimo. Nrimo dalam tradisi Jawa merupakan keterbukaan atau sifat mudah menerima segala sesuatu yang dianggap baik untuk membaur dalam kehidupan. Dari sifat inilah terjadi pergesaran kebudayaan Jawa melalui proses akulturasi. Uniknya, masyarakat Bayat sebagai orang Jawa selain mudah menyerap kebudayaan luar, juga masih mempertahankan kebudayaan aslinya.

Sistem kemasyarakatan masyarakat Jawa berkaitan dengan gotong-royong (sosialisasi) antar masyarakat di sekitarnya sebagai berikut. Toto kromo wanita Jawa saat bersosialisasi dengan masyarakat, proses sosialisasi antara anggota masyarakat dalam pengajian (langgar) dan kehidupan sehari-hari,  proses sosialisasi saat lamaran dan pernikahan, tradisi lek-lek’an, serat ulem sebagai simbol toleransi antara anggota masyarakat di Jawa, tradisi mitoni (tingkeban), dan toto kromo menerima tamu.

Berdirinya suatu organisasi sosial dalam masyarakat Bayat juga merupakan suatu bentuk kerja sama. Organisasi sosial merupakan perkumpulan orang-orang dengan pandangan hidup yang sama untuk tujuan yang sama. Di Bayat ada berbagai macam organisasi kemasyarakatan baik yang berbasis agama maupun kepentingan umum, kegemaran maupun politik seperti karang taruna, Orang Muda Katolik, Kelompok Pengajian, TPA, dll.  

 

c.     Sistem Pengetahuan

Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui dan berkenaan dengan hal yang diajarkan, baik di pendidikan formal maupun non-formal. Sedangkan sistem pengetahuan adalah keseluruhan sistem yang terpadu dari berbagai macam pengetahuan yang saling berkaitan satu sama lain.Sistem pengetahuan meliputi ruang pengetahuan tentang alam sekitar, flora dan fauna, waktu, ruang dan bilangan, sifat-sifat dan tingkah laku sesama manusia, hingga tubuh manusia. Pentingnya ilmu pengetahuan berhubungan dengan sistem pendidikan yang berlaku di Indonesia.

Ada kesadaran masyarakat Bayat terhadap pentingnya ilmu pengetahuan untuk masa depan, maka mereka menginginkan dan  mengirimkan anak anak mereka untuk menempuh  pendidikan  paling tidak dari TK, SD, SMP hingga SMA/SMK. Sekolah Menengah Kejuruan memang masih menjadi tujuan para orang tua karena mereka menganggap dengan bersekolah di SMK, anak-anak mereka mempunyai keterampilan khusus dan siap untuk bekerja.

 

d.    Sistem Bahasa

Bahasa merupakan unsur-unsur budaya menurut Koentjaraningrat berupa alat bagi manusia dalam memenuhi kebutuhan sosialnya untuk berinteraksi dengan sesamanya. Kemampuan manusia dalam membangun tradisi budaya, menciptakan pemahaman tentang fenomena sosial yang diungkapkan secara simbolik. Hal ini membuat unsur-unsur budaya menurut Koentjaraningrat seperti bahasa kemudian akan diwariskan kepada generasi penerusnya dengan menggunakan bahasa. Dengan demikian, bahasa menduduki kedudukan yang penting dalam analisis kebudayaan manusia.

Sebagian masyarakat Bayat menggunakan bahasa keseharian adalah bahasa Jawa yang  memiliki strata kasar, sedang, dan halus. Strata halus digunakan orang muda berbicara kepada orang yang usianya lebih tua, sedangkan untuk seumuran menggunakan bahasa yang sedang (ngoko alus) atau “ngoko”. Orang Bayat termasuk daerah Yogyakarta dan Solo lebih dikenal dengan bicaranya yang lembut dan sopan (tahu unggah ungguh).

 

e.          Sistem Kesenian

Unsur-unsur budaya menurut Koentjaraningrat dapat berwujud kesenian.   Aktivitas kesenian   masyarakat berupa Hadroh, Karawitan, Jathilan, Gerabah, Batik,  ukir, dan hiasan. Beberapa kesenian masyarakat Bayat yang menonjol dan memiliki nilai adalah :

1)        Motif Batik Khas Bayat

Setiap daerah di Jawa Tengah memiliki batik dengan corak yang khas. Ini berlaku juga di Kabupaten Klaten. Desa Wisata Jarum menjadi salah satu lokasi batik khas Klaten itu diproduksi. Warga setempat menyebutnya Batik Bayat.  Kedekatan Klaten dengan Solo membuat corak Batik Bayat mirip batik Solo, yakni corak kasunanan.

Batik Bayat didominasi warna cokelat. Warna ini kerap dipadukan dengan motif Gajah Birowo. Gajah digunakan lantaran hewan ini melambangkan sumber kekuatan serta kepemimpinan.

Selain motif gajah birowo, batik tersebut juga memiliki motif lain, yakni Babon Angrem. Dalam bahasa Indonesia, babon angrem berarti induk ayam yang sedang mengerami telurnya. Batik Bayat motif babon angrem biasanya digunakan para ibu pada upacara tujuh bulanan..  Motif ini menggambarkan ayam betina yang baru mengeram dan melambangkan harapan agar Tuhan memberkati perkawinan dengan memberikan kesuburan dan keturunan, serta kemakmuran dalam kehidupan. Harapan tersebut dapat dilihat pada motif utama berupa saluran indung telur yang penuh dengan bakal calon buah, bahkan ada gambar yang mengibaratkan rahim yang berisi benih atau biji. [1]Menilik pelambangannya, babon angrem menggambarkan kasih sayang ibu pada anaknya. Batik ini juga menjadi ungkapan permohonan keturunan agar bisa melanjutkan sejarah keluarga.

Pendidikan anak  meliputi Asah, Asih, Asuh dimulai sejak usia anak masih dini bahkan sejak masih dalam kandungan. Pendidik harus menerapkan asah, asih, asuh dalam mendampingi peserta didik hingga mereka tumbuh dan berkembang segala aspek kehidupannya.

                                                  

2)        Gerabah

Gerabah juga dikenal dengan istilah tembikar atau keramik. Gerabah yang dihasilkan oleh masyarakat Indonesia berupa barang pecah belah seperti tempayan, periuk, belanga, kendi, dan celengan. Teknik pembuatan gerabah pada saat itu sangat terbatas dan sederhana. Proses akhir dari pembuatan gerabah adalah pembakaran suhu rendah dengan menggunakan jerami atau sabut kelapa.

Gerabah yang dibuat di Bayat kebanyakan dibuat untuk keperluan sehari-hari. Misalnya, mangkok, gelas, teko air, meja, kursi atau pot tanaman. Gerabah Bayat memiliki kesan yang biasa, namun ada yang membuatnya unik dan berbeda dari pembuatan gerabah pada umumnya, yaitu terletak pada teknik atau cara pembuatannya.

Pada umumnya cara untuk membuat gerabah menggunakan meja putar tegak. Masyarakat di daerah Bayat menyebutnya dengan perbot, Yang membuat unik dari gerabah Bayat adalah penggunaan perbot miring yang konon hanya ada di Bayat. Perbot miring itu sendiri hanya bisa digunakan untuk membuat gerabah-gerabah yang ukurannya kecil. Apabila gerabah dibuat dalam ukuran yang besar, dikhawatirkan gerabah bisa jatuh karena posisinya miring.

                  

 

f.          Sistem Mata Pencaharian

Sistem mata pencaharian adalah pekerjaan atau pencaharian utama yang dikerjakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Beberapa mata pencaharian yang menonjol, unik dan menjadi ciri khas masyarakat Bayat adalah :

1)      HIK/Angkringan  (Penjual makanan dan minuman)

Jumlah masyarakat Bayat yang berprofesi sebagai penjual warung HIK/angkringan, Hidangan Istimewa Kampung (Klaten) cukup banyak. Mereka menyebar di seluruh pelosok Nusantara.

Penjual HIK/angkringan dulu  memikul dagangannya sambil berkeliling kota. Kemudian para penjual lebih memilih mangkal dan menggunakan sebuah gerobak kaki lima yang dilengkapi dengan kursi panjang untuk para pembeli. Karena menggunakan kursi yang panjang tersebut, para pelanggannya suka menaikkan sebelah kakinya ke atas kursi.  Karena kebiasaan menaikkan satu kaki inilah muncul istilah “angkringan” atau “nangkring” atau “metangkring”.

Secara ekonomis, keberadaan warung HIK/angkringan yang menyediakan beragam makanan berikut “jajanan” dengan harga murah berfungsi sebagai “katup penyelamat” bagi masyarakat golongan kelas bawah. Bungkusan nasi dengan berbagai lauknya seperti oseng-oseng tempe, ikan teri atau sambal yang dikenal dengan sebutan sego kuching‘nasi kucing’ karena porsinya yang pas-pasan sekedar dijual dengan harga Rp2.500,- dan agaknya dua porsi nasi kucing saja sudah cukup untuk mengisi perut yang keroncongan, sedang segelas teh hangat atau jeruk hangat dapat diperoleh dengan harga yang sama pula, Rp 2.500,-. Tak pelak, keberadaan warung angkringan juga dirasa begitu membantu masyarakat terlebih bagi mereka yang memiliki uang saku pas-pasan.

Warung HIK/angkringan memiliki filosofi yang mendalam terutama bagi masyarakat Jawa. Orang Jawa menganggap angkringan bukan hanya sebagai tempat mengisi perut dengan kisaran harga yang relatif murah.    Warung HIK/Angkringan dianggap sebagai tempat sosialisasi antar warga dan sebagai simbol egaliter (derajat yang sama) antar manusia. Apalagi dengan harga makanan di tempat ini memang murah sehingga tempat ini menjadi suatu sarana berkumpulnya masyarakat antar kelas sosial. Keberadaan warung angkringan dapat pula ditempatkan sebagai “ruang publik” masyarakat. Ruang publik (public sphere)sebagaimana diutarakan Jurgen Habermas, filsuf kenamaan Jerman adalah,

 

“...publicsphere may be conceived above all as the sphere of private people come together as a public; they soon claimed the public sphere regulated from above againstthe public authorities themselves, to engage them in a debate over the generalrules governing relations ...”

  (Jurgen Habermas 1989: 27)

 

[“…ruang publik dapat dipahami sebagai kesatuan ruang privat di mana orang-orang yang terdapat di dalamnya datang bersama-samasebagai publik; melakukan klaim bahwa ruang tersebut syarat diatur berdasarkan otoritas mereka, untuk turut berpartisipasi dalam debat mengenai berbagai kebijakan yang dibuat pemerintah…”][2]

 

Lebih jauh, Habermas menjelaskan bahwa ruang publik adalah suatu ruang yang bebas dari penindasan, tekanan,dominasi-dormant, suatu ruang di mana setiap individu memiliki derajat yang sama, dan berbagai diskusi dapat berlangsung di dalamnya. Di sisi lain, ruang publik berfungsi pula sebagai tempat untuk membudalkan uneg-uneg dan membuang “ampas-ampas kotoran” yang ada dalam pikiran.[3]

 

Diskusi yang terjadi dalam warung-warung HIK/angkringan berlangsung secara bebas dan terbuka. Bebas dalam arti, setiap orang dapat mengemukakan pendapat. Terbuka berarti, setiap orang dapat turut berpartisipasi dalam diskusi atau debat yang tengah berlangsung,entah tukang becak, buruh bangunan, sopir, siapapun berbagai lapisan masyarakat dengan beragam profesinya yang berbeda. Menilik proses sosial yang terjadi di dalam warung angkringan, tak berlebihan kiranya jika dikatakan bahwa sejatinya suara nurani akar rumput justru muncul dan menyerua melaluinya.

 

Dengan suasana yang menyajikan kehangatan dan kesederhanaan di setiap warung HIK/angkringan, menjadi suatu sarana bagi masyarakat untuk membaur satu dengan yang lainnya. Tidak memandang seragam dan status sosial. Bahkan seringkali penjualnya ikut terhanyut dalam obrolan para pelanggannya. Hal yang seperti inilah yang menjadikan pelanggan tiap-tiap warung HIK/angkringan punya alasan kembali. Kembali pada kodrat manusia yang memiliki derajat yang sama.

Filosofi  warung HIK/angkringan adalah salah satu bentuk perjuangan seseorang dalam menghadapi kemiskinan. Artinya adalah, dalam keadaan yang serba kesusahan dan modal yang seadanya atau sedikit tapi tetap berjuang untuk mendirikan sebuah usaha dan memenuhi kebutuhan hidup.  Keutamaan  yang ada dalan kehidupan masyarakat yang berprofesi sebagai penjual angkringan adalah :

a.      Sederhana

b.     Sabar

c.      Kerja keras

d.     Tidak membeda-bedakan, derajat sama

e.      Keramahan

f.      Komunikasi yang hangat

g.     Diskusi (musyawarah)

         

 

 

g.    Sistem Teknologi dan Peralatan

Sistem pengetahuan memengaruhi pola pikir masyarakat Bayat terhadap hal-hal baru seperti teknologi.  Kemajuan ini semakin pesat sehingga ditemukanlah internet, teknologi tepat guna, dan hal-hal modern lainnya. Sehingga pekerjaan manusia dapat dilakukan dengan mudah.

                         Listrik, telepon, jaringan internet sudah masuk di wilayah Bayat. Masyarakat Bayat sudah memfaatkan failitas ini untuk memperlancar pekerjaan, komunikasi dan pengembangan pengethauan mereka.  Hal ini mendorong masyarakat Bayat untuk memiliki peralatan  teknologi baru seperti handphone, smartphone, Televisi, Komputer, laptop, dll. Di masa pandemi Covid-19, keberadaan sarana teknologi sangat dibutuhkan untuk mendukung pencegahan penyebaran Covid-19 (5M).



[1] http://repository.isi-ska.ac.id/1499/1/Desi%20Rahayu.pdf

[2] kolomsosiologi.blogspot.com/2011/11/angkringan-sebagai-ruang-publik.html

[3] kolomsosiologi.blogspot.com/2011/11/angkringan-sebagai-ruang-publik.html





[1] https://www.kompasiana.com/gunbalar-1/55099c01813311f001b1e1f2/sejarah-bayat-batik-bayat-dan-ekonomi-kreatif-rakyat

[2] https://jogja.suara.com/read/2020/05/10/183000/sekilas-tentang-sunan-bayat ?page=all

[3] https://id.wikipedia.org/wiki/Sunan_Bayat

Comments